Senin, 12 Maret 2012

I'm Invisible

Malam. Akhirnya gue balik nulis lagi, meskipun berada ditengah kesibukan kuliah, baik akademis maupun nonakademis.

Kali ini gue mau cerita suatu hal lain yang nggak bisa gue ungkapkan sama siapapun- bisa juga dibilang kalau gue nggak mau. Ada kejadian di sore ini yang mengetuk hati gue untuk menyadari sesuatu. Ya, suatu kenyataan bahwa sebetulnya gue ini dibenci, atau bisa juga dibilang dijauhi orang lain. Kedengarannya keji dan sepertinya itu merupakan pernyataan sepihak gue. Tapi kalau lo jadi gue, bukankah lo akan berkata hal yang sama dengan gue?

Berawal gue yang membantu beberapa teman untuk menonton suatu film sebulan lalu. Meskipun awalnya gue merasa terganggu karena mereka yang terus mendesak gue, lama-lama rasa itu hilang dan gue jadi seneng setelah menjalani itu semua bareng-bareng. Setidaknya gue ikhlas 99%... sampai tadi sore gue menerima kabar bahwa teman-teman gue itu membeli tiket pre-sale untuk datang ke sebuah acara... tanpa mengajak gue. Begitu gue tanya alasannya kenapa dengan nada bercanda, salah satu teman gue cuma menjawab kalau mereka melakukan itu secara mendadak dan maksimal hanya bisa membeli 10 tiket. Sejenak hati gue langsung mencelos, tanpa ragu lagi air mata keluar...

Yang membuat gue kecewa adalah, meskipun kita semua bukan teman dekat, bukan teman sepermainan, tapi kita punya hobi yang sama dan selalu berbagi di dalamnya. Dulu waktu gue ngajak kita semua nonton bareng, apa kita dekat? Nampaknya tidak. Satu hal lagi yang bikin gue kecewa adalah... si tiket itu sendiri. Gue ingat ketika salah satu teman gue itu meminta gue untuk membuat sebuah kartu agar bisa membeli tiket yang banyak karena dia takut kita nggak dapat tiket. Awalnya gue nganggep itu paksaan karena gue sama sekali gamau. Tapi akhirnya gue lakuin dan nggak mengeluh setelahnya. Dan berapa maksimal tiket yang bisa gue beli? Se-pu-luh, dan gue menggunakan 9 diantaranya. Buat siapa coba? :)

Setelah kejadian tadi sore, gue jadi berpikir apa aja yang selama ini gue alami dengan teman-teman gue. Ya, ternyata memang benar. Gue selalu menjadi orang yang dijauhi dan dihindari, outcasted. Seperti yang gue bilang dulu, gue seperti berada di lingkaran dan tidak bisa keluar dari dalamnya, dan gue menjadi seperti manusia-tak-terlihat di dalamnya karena gue gatau lingkaran itu apa, siapa di dalamnya, dan apa yang terjadi di dalamnya.

Gue mengingat lagi hari-hari gue yang dipenuhi banyak teman, dan hari-hari gue yang penuh dengan fangirling. Saat itu, sampai detik ini, gue tahu. Gue tahu kalau gue itu kesepian. Obat dari kesepian gue itu adalah fangirling. Meskipun sekarang teman gue banyak, ini sama aja parahnya kayak dulu. Lingkaran gue dimana? Begitu gue gabung lingkaran ini, gue hanya bisa mengintip dari luar. Begitu juga dengan lingkaran yang lain. Gue seperti tanpa arah. Selain itu, tatapan-tatapan tidak suka dari orang lain... gue merasakannya. Pernah nggak lo ngerasa setiap lo habis selesai ngomong antara serius maupun tidak, tiba-tiba suasana hening dan teman lo memulai topik lain dan nyuekin lo? Kalau orang yang gue maksud melihat tulisan ini, mungkin dia akan berbalik menyalahkan gue. Gue jadi teringat masa kecil gue yang nggak punya teman. Ketika gue protes, mereka akan melawan balik seolah-olah itu salah gue. Bayangin satu orang yang nyerang trus dikeroyok rame-rame. Tapi gue tau kalau gue itu benar. Because they were a loser, then they will beat one weak person like me in a whole ^^

Sebetulnya nggak masalah gue berada di lingkaran mana, atau nggak ada di lingkaran manapun. Gue hanya butuh bukti bahwa selama ini yang gue punya adalah teman-teman yang baik. Gue percaya mereka baik, tapi luka lama yang dibawa oleh teman-teman gue yang saaaaaaangat baik dulu membuat gue jadi sensitif begini. Gue juga introspeksi diri kok, apa gue udah jadi temen yang baik atau belom. Gak ada yang tau gue udah berusaha sekeras apa untuk sampai di taraf ini. Gue bukan mereka, atau kalian-kalian yang dari dulu punya teman. Gue berawal dari nol. Nol teman. Coba bayangkan kalau kalian ada di posisi gue. Beruntunglah kalian yang selalu dikelilingi teman-teman baik. Beruntunglah kalian yang tidak mempunyai trauma di masa lalu. Malam :)

Senin, 13 Februari 2012

Ketika Mulut Berbicara

Tidak ingin bicara, tidak bisa bicara
Namun muncul lagi rasa itu
Ingin mati, ingin ini semua cepat berakhir
Topeng yang kupakaipun mulai menggores tajam kulitku
Pedih, wajah dibalik wajah topeng yang bahagia itu
Ya Allah, tolong hambaMu lepas dari cobaan ini

Selasa, 07 Februari 2012

Penjelasan...

Yak gue kembali lagi. Kali ini gak kepengen cerita, cuma pengen ngasih penjelasan aja. Loh, penjelasan apa? Yaaaa pengen jelasin tentang puisi yang baru aja gue post.

Oke, klarifikasi yaaaa... GUE LAGI GAK GALAU! Itu gue buat beberapa hari lalu karena ingat... suatu hal dan seorang teman di masa lalu. Jadi terinspirasi aja gitu bikin puisi kayak gitu. Imajinasi gue memang mempunyai mood yang aneh (sama seperti pemiliknya). Pasti gue suka bisa bikin puisi aja menjadi kenyataan yang mengerikan dan mengejutkan -__-

Puisi itu jadi salah satu favorit gue dari puisi-puisi lainnya yang gue udah bikin. Ada dimana puisinya? Wah ada disuatu tempat rahasia (di binder lama lo kan? hem). Yang jelas, gue nggak pernah post dimanapun karena malu karena itu semua jelas-jelas galau WAKAKAKAKAK.

Nah, gue juga mau ngasih penjelasan mengenai puisi barusan. Jadi kan itu ada 3 bait. Bait pertama itu pas pagi-pagi pas si matahari muncul. Trus bait kedua pas malem hari dan si mataharinya ada di bagian dunia lain. Dan yang terakhir, si matahari balik lagi deh.

Udah, segitu doang penjelasannya? Sebetulnya ada baaaaaanyak maksud dari puisi itu. Tapi gue terhenti pas mau nulis haha. Nanti kesan misteriusnya ilang dong. Gue akan membiarkan pembaca berimajinasi dengan tulisan gue yang absurd hahaha. Enjoy! :D

A Sunflower's Confession

Hello, Sunshine!

How was your morning today?

Was it rough? Was it tiring?

I bet roaster’s scream really startled you

I’m so sorry for you

Do you want to go again now?

That’s alright, I promise that I always be waiting for you


Hello, Sunshine!

How was your morning today?

Was it warm? Was it cold?

It’s really cold here

The dark sky scares me

I don’t dare to pay any look to the sky

Because there’s no you, looking there is not necessary for me


Hello, Sunshine!

How was your morning today?

Was it bad? Was it good?

I was waiting for you all night long

Do you know about it?

I’m glad you are back with me here

I know you’ll be going again

Then let me say this confession before you go

“Please shine on me as much as I like you,”

Why?

Because any sunflower cannot live without you


- A.M.H.-


note : coba baca sambil denger lagu Like a Star - The One feat. Taeyeon (SNSD) biar feel-nya dapet :p

Sabtu, 04 Februari 2012

Berhati Lapang? Atau Berpikiran Lapang?

Fyuh, akhirnya gue kembali lagi dengan postingan disini. Liburan ini gue cukup produktif yah. Posting sana sini, cerita ini itu. Liburan ini gue nggak ngapa-ngapain padahal. Tapi emang kayaknya gue nggak bisa 'libur' dari satu hal ini- introspeksi diri. Mestinya introspeksi diri adalah suatu hal yang positif bukan? Tapi hal itu kadang menjadi racun bagi gue, karena gue selalu melakukan hal itu.

Mengingat gue punya masa kecil yang suram, dan bagaimana gue bisa berubah dalam beberapa tahun ini, itu aja udah merupakan keajaiban buat gue. Untuk itu gue pasang strategi agar gue nggak balik kayak dulu, yaitu dengan cara selalu introspeksi diri tentang apa yang gue lakukan. Hasilnya? Nggak buruk sih, tapi ada buruknya. Contohnya adalah ketika gue berbuat salah, gue langsung tau kalau gue salah. Lah, kok buruk? Mungkin kalian bertanya-tanya, kok hal seperti itu dinilai buruk. Kembali gue dan kepribadian gue yang rapuh dan sensitif. Gue takut banget kehilangan teman dan pasti bakal bereaksi sama kayak kalau orang yang punya panic disorder (ehem bukan gue) lagi kambuh.

Nah, sebetulnya topik yang mau gue omongin ada hubungannya dengan ini. Karena melakukan banyak introspeksi diri, gue cenderung jadi memikirkan apa yang baik, mana yang buruk, kesalahan apa aja yang telah gue perbuat, kebaikan apa aja yang gue perbuat. Semua itu natural aja terjadi. Gue jadi membuat teori-teori psikologis sendiri mengenai mana yang baik, mana yang buruk, meskipun gue tau gue pasti akan melakukan keduanya, baik sengaja maupun nggak disengaja. Salah satunya adalah pemahaman gue sendiri mengenai orang yang berpikiran dan berhati lapang.

Sebetulnya susah untuk menggambarkan mana yang disebut berpikiran lapang dan berhati lapang. Gampangnya sih gini: orang yang berpikiran lapang adalah orang yang menganggap bahwa dirinya itu yang paling baik di dunia; yah, pokoknya yang berhubungan dengan intelektual dan pandangan seorang manusia lah. Kalau berhati lapang, lebih ke emosi. Bisa diambil contoh kalau berpikiran lapang itu adalah mengakui kesalahan diri sendiri dan kehebatan orang lain tanpa merasa iri atau prasangka buruk apapun. Kalau berhati lapang... yah pada tahu kan ya? Semacam bisa menerima apapun yang lo dapet dan bersyukur.

Gue pribadi gue merasa diri gue adalah orang yang berhati lapang, tapi berpikiran sempit. Gue adalah orang yang terus terang, jujur, dan realistis, meskipun untuk memperlihatkan itu semua sulit. Jujur gue kadang berpikir kalau gue itu lebih baik dari orang lain (bukti kalau gue berpikiran sempit) dan gue mengakui itu (bukti kalau gue berhati lapang). Tapi nggak semua orang berhati lapang, nggak semua berpikiran sempit, atau bukan dua-duanya, Satu hal yang gue yakin, bakal susah menemukan orang yang memiliki keduanya. Sekian! :)

Selasa, 31 Januari 2012

Panic Disorder

Dari judulnya pasti orang udah bingung. Apa sih panic disorder? Hmm bisa coba googling aja buat coba tau apa itu panic disorder.

Udah tau? Udah ngerti? Oke. Gue mau buat pengakuan, kalau gue menduga bahwa gue terkena, hmm... gatau mesti dibilang penyakit atau nggak. Ya pokoknya itulah, panic disorder.

Awalnya gue juga gak pernah denger sebelumnya tentang ini. Gue jadi tau disorder ini gara-gara baca suatu artikel tentang seorang aktor yang punya penyakit ini dan sampai sempet pingsan karenanya. Gue belum nyampe taraf itu memang, tapi gue cukup curiga akan sikap gue ketika rasa panik menyerang. Satu hal yang pasti, gue ngerasain pusing. Kadang mual juga. Kadang jantung juga berdegup kencang.

Minggu lalupun gue menonton suatu acara di TV. Disitu dijelaskan bahwa banyak artis Korea mengalami penyakit ini. Seorang dokter bilang, kalau salah satu tandanya adalah lo seperti merasa kesepian dan kepengen mati tanpa suatu alasan khusus. Selain itu juga lo memiliki kecenderungan buat panik akan kepanikan di esok hari (ribet ya -.-). Believe it or not, gue sering merasa seperti 3 hal diatas kalau lagi panik. Gue seperti menunggu kapan penderitaan (kepanikan) itu berakhir dan biasanya cuma dilampiasin pake nangis doang.

Gue juga pernah ngalamin suatu kejadian nyata yang bikin gue curiga. Pertama pas ada masalah sama tugas kelompok yang deadline-nya udah deket banget. Kepengen nangis, tapi gue paling benci nangis dihadapan orang lain. Akhirnya gue diem sambil nahan nangis sampe tenggorokan sakit banget rasanya. Dan muka gue udah pucet, guepun ngerasain pusing. Dan gue nggak bisa ngomong satu katapun sampe temen gue akhirnya bantuin buat nyelesain masalah itu.

Yang kedua pas gue ditunjuk jadi PJ buat ngurusin es krim. Gue belom pernah bicara sama siapapun sama orang lain tentang hal ini, tapi gue mau ngeplong-in pikiran. Maaf kalau ada yang tersinggung atau sebagainya. Jadi ketika gue panik pas vendor es krimnya nggak bisa dihubungi pas H-1, gue nangis nggak karuan dan satu hal yang pasti... gue ngerasa sendirian dan pengen mati. Gue udah tanya dan minta tolong temen-temen buat bantuin gue. Gue ubah mindset gue yang notabennya seorang yang individualis. Gue mikir kalau gue nggak sendiri. Tapi nampaknya yang gue terima belom cukup bagi gue untuk merasa tenang. Seharusnya gue bisa bicara, tapi gue nggak bisa. Gue marah sama diri gue sendiri yang terus terang, tapi susah buat ngucapinnya.

Pas hari H, gue kira semua akan baik-baik saja tapi ternyata malah ada masalah lain. Hari itu bukan hari yang membahagiakan, meskipun bagi sebagian teman-teman gue mereka merasakan sebaliknya. Yang jelas gue benci hari itu. Gue benci diri gue sendiri yang terlalu baik. Dan hasilnya? Setiap orang gak liat gue cuma bisa nangis sementara panik dan stres merajalela banget di pikiran. Bisa dikatakan lagi kalau gue ngerasa sendirian dan pengen mati lagi.

Gue jadi inget kalau kata dokter di acara itu, seorang yang terkena panic disorder membutuhkan teman untuk meringankan bebannya itu. Tapi bodohnya gue, gue nggak mau membebankan orang lain. Gue juga pasti bakal ngerasa ada yang kurang dari yang gue terima. Yah, manusia emang gak bakal pernah puas.

Pada akhirnya yang membuat gue bertahan adalah Allah. Coba bayangin kalau orang kayak gue ngerasa pengen mati terus. Kalau gue nggak beriman, kalau gue nggak punya iman, gue udah bunuh diri sekarang. Kalau udah panik atau gejalanya muncul, gue ubah mindset lagi, "Gue hidup karena Allah, mati juga karena Allah". Gue gak boleh melawan takdirNya, siapapun juga gak boleh. Dengan pasang mindset kayak gitu, alhamdulillah jadi ngerasa lebih tenang dan mau gamau introspeksi diri lagi apakah gue udah dekat denganNya?

Sebetulnya gue panic disorder atau nggak, itu cuma dugaan. bisa dibilang kemungkinannya 40% banding 60%. Gue harap yang gue nggak panic disorder itu yang 60% hehe. Meskipun di suatu tes dari internet menyatakan panic disorder, gue sendiri masih sedikit merasa kalau gue masih jauh dari taraf itu. Well, gue kepengen banget coba tes hahaha. Tapi mengingat gue orang yang gampang banget bikin sugesti positif (eits, bikinnya susah tapi klo udah niat bener-bener bakal terjadi), yah anggep aja gue nggak panic disorder. Tulisan diatas hanya menduga, sekalian curcol gue lagi ngerasain apa hahaha XP



note : kalau ada yang tau banget tentang panic disorder atau pengertian gejala panic disorder gue ada yang salah silahkan bilang yaa hehehe

Minggu, 29 Januari 2012

Harapan yang Akan Kami Capai Bersama di BEM Fasilkom UI 2012

Harapan yang Akan Kami Capai Bersama di BEM Fasilkom UI 2012

1. Menjaga nama baik Fasilkom UI beserta seluruh elemen-elemennya

2. Menjadi organisasi yang solid dan kekeluargaan

3. Memberikan contoh dalam berlaku dan bersikap terhadap khalayak umum

4. Menampilkan program kerja yang dapat bermanfaat dan meninggalkan kesan baik di khalayak umum khususnya di lingkungan Fasilkom UI sendiri

5. Mengajak seluruh elemen Fasilkom UI untuk peduli terhadap masalah disekitarnya, terutama mengenai isu #saveUI

6. Menjadi organisasi yang dinamis, aktif, dan peka terhadap hal-hal disekitarnya

7. Menerima aspirasi-aspirasi untuk BEM Fasilkom UI maupun Fasilkom UI yang lebih baik dari berbagai pihak

8. Dapat mewujudkan aspirasi-aspirasi tersebut

9. Dapat menonjolkan diri di hadapan umum, khususnya elemen-elemen Fasilkom UI

10. Merangkul elemen-elemen Fasilkom UI yang memiliki permasalahan-permasalahan sosial maupun akademis yang menyangkut kehidupan di Fasilkom UI

11. Mempublikasikan Fasilkom UI ke dunia luar

12. Memandu Fasilkom UI agar dapat berjaya dalam kompetisi-kompetisi dalam UI seperti UIFest atau Olim UI

13. Mempersatukan seluruh elemen-elemen Fasilkom UI

14. Dapat memperjuangkan hak-hak mahasiswa, khususnya mahasiswa/mahasiswi Fasilkom UI

15. Mempelopori gerakan menciptakan lingkungan Fasilkom UI yang lebih nyaman dari sebelumnya

16. Membantu mempertahankan Fasilkom UI yang bebas terhadap senioritas

17. Dapat selalu bekerja dengan profesional dan stabil

18. Menciptakan suasana organisasi yang nyaman bagi siapapun, baik anggota maupun bukan anggota BEM Fasilkom UI, agar bisa dijadikan sarana pembelajaran, khususnya bagi yang belum pernah berorganisasi

19. Senantiasa bertanggung jawab atas segala kegiatan dan perbuatan yang dilakukan baik secara pribadi (anggota) maupun secara organisasi (atas nama BEM Fasilkom UI)

20. Senantiasa rendah diri dan rendah hati ketika menjabat sebagai anggota BEM Fasilkom UI

- Anggi Maulidyani Harahap